Monday, August 31, 2009

Resensi Buku - Desersi

Membedah Kalimantan Ala Dr. Jones

Data Buku

Judul :Desersi : Menembus Rimba Raya Kalimantan

Pengarang :M.T.H. Perelaer

Penerbit :Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit :2006

Tebal :xiv + 286 hlm

ISBN :979-91-0052-6 (ISBN-10) 978-979-91-0052-8 (ISBN-13)

Judul Asli :Borneo van Zuid naar Noord


Sebuah villa besar, dengan berbagai kemewahannya. Sebuah sore yang indah dimana beberapa penghuninya sedang menikmati segelas teh hangat bersama beberapa tamunya. Mereka merencanakan untuk bermain tenis, atau memiliki beberapa teman, baik sesama Nederlands-Indie Europees maupun beberapa kaum lainnya yang memiliki kedudukan sosial penting atau kekayaan yang besar jumlahnya. Mereka menikmatinya di sebuah rumah di Wilhemninastraat di Jakarta, atau sebuah rumah di bukit di kota Bandung. Sembari itu, mereka membicarakan berbagai kondisi terkini, seperti proses perdamaian di Eropa, kondisi politik yang memanas, atau sekadar mobil baru Dr. Wilhelm.

Memang, yang diceritakan di atas adalah pusat yang cukup sering dilihat dari cerita-cerita mengenai kehidupan orang Belanda di Indonesia pada masa kolonial, terutama pada masa awal abad ke dua puluh. Sebuah cerita mengenai kemewahan yang luar biasa, yang akan tampak kontras bila ditaruh di Medan, Jakarta, Bandung, bahkan di Negeri Belanda sendiri. Ini dapat dilihat dari pembukaan buku seperti ‘Kalah atau Menang’ oleh STA atau ‘Salah Asuhan’ oleh Abdul Moeis. Namun, buku ini mengubah standar itu.


Isi Cerita

Berlawanan dari persepsi kenyamanan petinggi Belanda seperti dilihat oleh kaum pribumi, buku ini membongkar semuanya. Bergerak menjauhi bandar-bandar kolonial yang bergelimang uang, Meneer Perelaer bergerak lebih ke utara, menuju muara suatu tempat di antara Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Ada empat orang, 2 Swiss, 1 Belgia, dan 1 pribumi yang melarikan diri dari pos penjagaan terdepan milik Belanda di pinggir Sungai Kapuas. Keempat orang ini, dipipimpin oleh sang pribumi, Yohanes, merencanakan kabur. Maka, bekerjasama dengan seorang pedagang Tionghoa untuk menyediakan bekal, serta orang Dayak untuk menyamar dalam kapal jenazah , mereka hampir lolos. Namun, berkat kesalahan si Belgia pemabuk, La Cuille, rencana mereka terbongkar dan mereka menjadi buronan paling dicari di seluruh Kuala Kapuas.

Mengetahui terbongkarnya rencana mereka, mereka berbalik arah, tadinya ke Laut Jawa menjadi ke pedalaman Kalimantan. Disinilah petualangan mereka dimulai. Setelah menyamarkan ketiga orang Eropa tersebut mereka menuju utara. Ada beberapa kejadian menegangkan, seperti ketika mereka Yohanes melawan buaya, atau Wienersdorf melawan ular besar, atau pertemuan mereka dengan adat Dayak lama, pengayauan atau tradisi memotong kepala. Sebuah kejadian paling menegangkan ketika Wienersdorf bertarung mati-matian dengan sekelompok pengayau, di saat mereka mengumpulkan madu. Wienersdorf menyelamatkannya, alih-alih membunuhnya. Kejadian ini nantinya berpengaruh besar pada perjalanan mereka.

Perjalanan mereka berlanjut, berkejaran dengan kolonel garnisun lama mereka yang pantang menyerah. Kecerdikan mereka menolong mereka melakukan tipuan pada orang Dayak. Atas nama Belanda, mereka mendapat bantuan orang dan makanan. Dalam perjalanan, mereka bertemu Harimau Bukit, orang yang diselamatkan Wienersdorf. Ternyata ia adalah kepala suku Punan, suku paling ditakuti di seluruh Kalimantan. Ia menyertai mereka, memberi perbekalan, membantu melawan serangan terakhir kolonel, bahkan memberi adiknya sebagai istri Wienersdorf. Hamadu, adik Harimau Bukit, digambarkan sebagai perempuan yang luar biasa cantik luar-dalam, yang telah dididik alam. Wienersdorf bahkan tidak dapat menolaknya. Ia bersedia menikahinya.

Setelah mematahkan usaha terakhir kolonel untuk menangkap mereka, keempat pelarian ini kembali bergerak, menembus medan Kalimantan Tengah yang bergunung. Cerita perjalanan tahap akhir ini, dibumbui kisah cinta Wienersdorf, pertempuran antar suku, serta penemuan batubara dan emas oleh La Cuille. Diselipkan pula unsur sejarah, dimana ditemukan kuburan penjelajah Kalimantan asal Inggris, George Muller, yang mati terbunuh. Namanya kini menjadi nama barisan gunung di perbatasan Malaysia-Indonesia.

Kini adalah saat perpisahan. Mereka menyebrangi perbatasan menuju ke garnisun Inggris terdekat. Disana, mereka menumpang kapal menuju Singapura. Setelah mencairkan dan membagi kekayaan, ketiga orang Eropa tersebut pulang, sementara Yohanes tinggal di sana.


Kisah dengan kedalaman

Perlu diakui, kisah ini ditulis dengan berbagai pengetahuan yang tinggi. Pembaca akan menemukan pembahasan secara ilmiah mengenai beberapa fenomena alam yang umum di Kalimantan, seperti Aeolian Harp, fenomena suara akibat embusan angina di pantai; atau mengenai pembentukan pulau Kalimantan; atau mengenai pantulan cahaya yang unik pada sungai-sungainya; atau bahkan mengenai urat-urat emas dan sumber batubara.

Selain itu, pembaca akan menemukan berbagai bumbu-bumbu budaya, yang memang selalu menyemarakkan novel yang tidak menceritakan kehidupan yang umum. Bumbu budaya yang asing, dalam kasus ini budaya Dayak, mendapat peran yang dominan. Sekali lagi, Meneer Perelaer menunjukkan luasnya pengalaman, yang didapat sewaktu menjadi pejabat sipil di Kalimantan Tengah (hal ini dijabarkan dalam pembukaan edisi bahasa Indonesia). Budaya seperti pengayauan, sistem sosial, dan kebutahurufan adalah latar belakang sosial pada masyarakat Dayak. Walaupun penerjemah dalam pendahuluannya memberi keterangan, bahwa tidak seluruh informasi adalah akurat, ini memberi penjelasan yang populer pada kebudayaan yang dianggap mistis ini.


Alur cerita yang cepat

Alur cerita yang tepat, berbagai kejadian yang saling susul menyusul, disertai narasi yang tidak terlalu panjang, menjadi ciri sekaligus kekuatan buku ini. Dibandingkan dengan buku lain yang lebih terkenal seperti Tambang Raja Salomo (King Solomon’s Mines) oleh Rider Haggard, buku ini lebih terasa seperti menonton film dengan perubahan cepat. Walaupun lebih miskin detil, keseluruhan cerita menutupi kekurangan ini.

Walaupun begitu, alur cerita ini kadang membuat rancu cerita, karena beberapa kejadian bertumpuk sekaligus. Contoh yang cukup jelas ada di awal buku, dimana kemunculan tokoh Dalim sebagai kawan Yohanes. Asal-usulnya menjadi simpang siur dan bertentangan. Beberapa kali hal seperti ini muncul, membuat kekacauan cerita, sebuah kesalahan yang seharusnya tidak ada.


Kontemplasi & Nilai

Sebagai buku yang ditulis pada antara abad ke-19 dan awal abad ke-20, buku ini memiliki nilai-nilai semangat perjuangan, semangat penjelajahan, serta hubungan harmonis (atau sering tidak harmonis) antara kaum Eropa dengan penduduk pribumi di berbagai bagian dunia lainnya. Sebagai buku yang ditulis seorang Eropa, buku ini mengandung nilai-nilai Protestan, terutama masalah kerja keras, kemalasan, dan hubungannya dengan terciptanya kolonialisme pada bagian dunia lain.

Nilai lain yang berharga, seperti digambarkan pada banyak cerita petualangan, adalah nilai kesetiaan dan nilai persahabatan. Walau begitu, penulis dalam tingkat yang lebih rendah, memasukkan nilai-nilai superioritas Eropa dibanding bangsa asing. Namun, pengunggulan ras tidak ditonjolkan, karena kondisi orang Eropa itu yang perlu si Dayak, bukan si Dayak yang menghamba padanya.


Kesimpulan

Memang, secara umum, dengan banyak kelebihan dan sedikit kekurangan, buku ini seharusnya sudah menjadi buku top kisah petualangan dunia. Bahasa yang mudah, cerita yang bagus, detil yang lengkap, semuanya mendukung untuk menjadi Times Bestseller. Mengapa tetap tidak berhasil?

Dibutuhkan lebih dari cerita yang bagus agar sebuah buku dapat sukses. Faktor utama penghambat adalah bahasa. Bahasa aslinya, bahasa Belanda, kalah pamor dan kurang akses, terutama pada pembaca-pembaca di Inggris, Amerika Serikat, dan berbagai negara berbahasa Inggris lainnya. Terjemahan bahasa Inggrisnya sendiri tidak menjadi unsur penting. Faktor lain adalah waktu. Dekade 1870-1880 terlalu cepat bagi buku berjenis ini. Bahkan, King Solomon’s Mines pun terbit sekitar 20 tahun kemudian.

Menghadapi berbagai kekurangan ini, tetap ini adalah karya yang amat pantas untuk dibaca. Selain unsur petualangan yang liar, buku ini juga menambah wawasan keindonesiaan kita. Ingat, hati-hati kepalamu!


4.0/5.0


Friday, August 28, 2009

Intro

Halo! Ini adalah blog resmi Paul Simanjuntak, khusus untuk masalah pribadi.

Trims

PY Simanjuntak